JEPARA – Penurunan debit sumber air akibat kemarau di Kabupaten Jepara menjadi salah satu faktor yang memengaruhi distribusi Perumda Tirta Jungporo. Namun, persoalan teknis dan kondisi geografis juga menentukan kelancaran pasokan.
Plt Kepala Bagian Produksi Perumda Tirta Jungporo, Muhlishin menjelaskan, kemarau berkepanjangan menyebabkan debit sumur dalam menurun, disertai turunnya muka air tanah atau static water level (SWL).
“Kalau bencana alam, jelas dari musim kemarau yang berkepanjangan. Sumur dalam kita memang debitnya kurang dan elevasi airnya turun,” papar Muhlishin, Senin (19/10/2026).
Data Perumda, pada 25 September 2026 mencatat debit sumur dalam Welahan dan Manyargading turun dari 23 menjadi 17 liter per detik, atau berkurang sekitar 26 persen. Sementara debit sumber Bungpis dilaporkan menyusut lebih dari 50 persen.
“Penurunan tersebut mendorong pemberlakuan distribusi bergilir di Desa Kaliombo, Karangaji, Ujungpandan, dan Kedungmalang,” tulis dalam catatan Perumda Tirta Jungporo yang dikutip, hari ini.
Kondisi itu sejalan dengan peringatan BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Tengah. Pada periode 11–20 Oktober 2026, Kabupaten Jepara masuk kategori Awas Kekeringan Meteorologis, tingkat peringatan tertinggi dalam sistem tersebut. BMKG juga mengingatkan perlunya langkah mitigasi terhadap dampak kekeringan.
Lanjut Muhlishin, Perumda telah mengoperasikan 104 sumur, dengan sekitar 80 persen disebut telah mencukupi kebutuhan berdasarkan kondisi sumber yang tersedia. Namun, penurunan debit membuat distribusi di wilayah dengan elevasi tinggi dan lokasi terjauh menjadi lebih sulit.
“Di sejumlah area SPAM, air hanya mengalir pada jam-jam tertentu akibat terbatasnya pasokan dan tingginya konsumsi,” terang dia.
Di sisi lain, gangguan teknis seperti masalah kualitas air, kerusakan motor pompa, serta kondisi jaringan juga dapat menghambat pelayanan. Pihaknya komitmen bekerja sama Tim Reaksi Cepat (TRC) dalam perbaikan layanan di sektor teknis.
Perbedaan penyebab ini penting karena penanganannya tidak sama. Kekeringan membutuhkan pengelolaan sumber dan pengaturan distribusi, sedangkan kerusakan teknis memerlukan pemeriksaan serta perbaikan infrastruktur.
Muhlishin memperkirakan, jika hujan belum turun hingga November, penurunan debit berpotensi mencapai 20-30 persen. Akan lebih parah apabila Jepara tak kunjung hujan hingga Desember nanti.
“Bersama Direktur Perumda Tirta Jungporo, pak Lukman kami komitmen memperbaiki layanan semaksimal mungkin,” pungkas dia.



